Ada syahadat kepada Muhammad saw di Gospel Barnabas

MENALAR INJIL KANONIK DAN APOKRIF:
Kutipan Injil Barnabas dan Injil Yohanes dalam Manuskrip “Apology of al-Kindi” Abad IX

By: Menachem Ali
The Yeshiva Institute

Manuskrip kuno yang berasal dari tradisi Kristen yang berjudul “Apology of al-Kindi” dapat dijadikan sebagai teks pembanding. Manuskrip ini ditulis sebagai sebuah “karya polemik” antara Abdullah ibn Ismail al-Hashimi dan Abd al-Masih ibn Ishaq al-Kindi pada masa abad ke-9 M. Menurut para ahli, manuskrip ini tepatnya ditulis pada masa pemerintahan Khalifah al-Ma’mun (813 – 834 M), ditulis oleh seorang penulis Kristen dari kalangan Gereja Ortodoks Syria Timur. Ada yang menduga bahwa penulis sebenarnya adalah penulis terkenal yang bernama Yahya bin ‘Adi (893 – 974 M) yang menulis banyak karya terkait pembelaan iman Kristiani dari “serangan” pihak Islam. Lihat J.M. Gaudeul, Encounters & Clashes: Islam and Christianity in History. A Survey (Roma: Pontificio Istituto di Studi Arabi e d’Islamistica/ PISAI, 2000), hlm. 54. Sementara itu, menurut riset yang dilakukan oleh Sir William Muir dalam karyanya yang berjudul “The Apology of al-Kindy: In Defence of Christianity Against Islam” (London: Society for Promoting Christian Knowledge, 1887 M.), manuskrip ini ditulis pada tahun 215 H/ 830 M.

Literatur Kristiani yang berjudul “The Apology of al-Kindi” yang manuskripnya ditulis pada tahun 215 H/ 830 M., dapat dijadikan sebagai bukti adanya dialog teologis lintas agama pada zamannya. Manuskrip tersebut memang berisi “dialog imajiner” (bukan dialog yang sebenarnya). Namun, semangat penulisan teksnya bertujuan untuk mengedepankan titik temu konsep teologis antara ajaran Kristen dan Islam. Dengan kata lain, manuskrip ini secara “de facto” berasal dari tradisi gerejawi yang ditulis oleh seorang intelektual Kristen yang teksnya ditulis pada abad ke-9 M. Menariknya, pada teks tersebut terdapat kutipan nas yang redaksional teksnya berbunyi demikian:

“Hoc enim est testimonium verum – glorificet te Deus – quod Deus antequam saecula crearet, testificatus est, videlicet, cum in throno scriptum esset: “Non est deus nisi Deus, Mahumet nuntius Dei.”

(“Indeed, this testimony is true – may God glorify you – since God attested it before He created the world, for on the throne is written: “There is no god but God, and Muhammad is the prophet of God”). Lihat karya Julian Yolles dan Jessica Weiss (ed.), Medieval Latin. Lives of Muhammad (London: Harvard University Press, 2018), hlm. 237.

Pada manuskrip “Apology of al-Kindi”, yang manuskripnya ditulis pada tahun 215 H/ 830 M., ternyata terdapat kutipan nas penting yang menyatakan bahwa di ‘arasy-Nya telah tertulis 2 kalimat “Syahadat” sebelum Dia menciptakan segala sesuatu. Artinya, eksistensi nama Muhammad SAW telah termaktub di ‘arasy TUHAN, dan oleh sebab dia segala sesuatu diciptakan. Dalam konteks ini, ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab oleh para akademisi pengkaji lintas agama dan para filolog teks klasik.

  1. Apakah manuskrip “Apology of al-Kindi” yang ditulis pada abad ke-9 M. (circa. 215 H/830 M), mengenal dan mengutip “matan” hadits dari kitab al-Mustadrak yang ditulis oleh Imam al-Hakim yang hidup pada abad ke-11 M. (w. 405 H/1020 M)? Hal ini tentu saja sangat tidak mungkin, sebab eksistensi manuskrip kitab al-Mustadrak al-Hakim baru muncul 2 abad kemudian – setelah adanya manuskrip “Apology of al-Kindi”, atau ada rentang waktu sekitar 190 tahun.
  2. Apakah kitab Mustadrak karya Imam al-Hakim yang hidup pada abad ke-11 M. (w. 405 H/1020 M.) justru mengutip nas dari teks yang termaktub dalam manuskrip “Apology of Al-Kindi” yang ditulis pada abad ke-9 M. (circa. 215 H/830 M)? Hal ini juga tidak mungkin, sebab Imam al-Hakim tidak mengenal dan tidak pernah belajar tradisi literatur Kristiani. Apalagi manuskrip “Apology of al-Kindi” ini aslinya ternyata ditulis dalam bahasa Syro-Arabic, dan beraksara Karshuni. Dengan kata lain, teksnya awalnya ditulis dalam bahasa Arab tetapi ortografinya menggunakan aksara Syriac, kemudian akhirnya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-9 M. Lihat karya Charles Tieszen, A Textual History of Christian Muslim Relations: Seventh – Fifteenth Centuries (Minneapolis: Fortress Press, 2015), hlm. 77-78. Kesulitan pembacaan teks dari manuskrip “The Apology of al-Kindi” yang beraksara Karshuni tersebut sangat mustahil dapat diakses oleh Imam al-Hakim. Tidak ada satu pun bukti dalam karya apapun yang menyebutkan bahwa Imam al-Hakim (circa. w. 405 H/ 1020 M.) disebut sebagai seorang ahli hadits yang menguasai bahasa Syro-Arabic yang ditulis dalam aksara Karshuni tersebut. Apalagi manuskrip “The Apology of al-Kindi” (circa 215 H/830 M.) itu ternyata usia naskahnya ada rentang zaman sekitar 190 tahun dengan masa kehidupan Imam al-Hakim (circa. w. 405 H/ 1020 M).
  3. Bila ada yang menyatakan bahwa “matan” hadits yang termaktub dalam kitab Mustadrak karya Imam al-Hakim yang hidup pada abad ke-11 M. (w. 405 H/1020 M) tersebut didakwa sebagai “riwayat Israiliyat” yang harus ditolak, karena diduga “mengutip” dari manuskrip “Apology of al-Kindi yang ditulis pada abad ke-9 M. (circa. 215 H/830 M.), tentu hal ini menjadi “absurd.” Apa bukti dokumen yang dapat dijadikan justifikasi dugaan tersebut? Bila alasannya hanya sekedar adanya kesejajaran teks antara nas yang termaktub dalam manuskrip “The Apology of al-Kindi” dengan nas yang termaktub dalam kitab al-Mustadrak Imam al-Hakim, maka ini tidak logis. Bukankah ayat-ayat Quran juga banyak yang memiliki kesejajaran dengan ayat-ayat Alkitab, dan juga memiliki kesejajaran nas dengan teks-teks yang termaktub dalam kitab-kitab Apokrif? Apakah hal ini membuktikan bahwa ayat-ayat Quran merupakan “ayat-ayat Israiliyat” karena diduga “mengutip” dari ayat-ayat Alkitab (Bible) karena ada kesejajaran “matan” teks pada ayat-ayatnya? Bukankah dalam kitab Shahih Bukhari juga terdapat “matan” hadits yang sejajar dengan teks Alkitab? Apakah Imam Bukhari juga “mengutip” dari teks Alkitab yang tentu saja hal itu terkait dengan riwayat Israiliyat? Dalam hal ini, kita tidak boleh “double standard.” Dengan demikian, dakwaan adanya pengaruh “riwayat Israiliyat” dalam kitab Mustadrak al-Hakim sangat tidak “fair.”
  4. Apakah nas yang termaktub dalam manuskrip “Apology of al-Kindi” yang ditulis pada abad ke-9 M. (ca. 215 H/830 M.) tersebut justru mengutip dari teks “Injil Barnabas yang asli”, yang manuskrip otografnya kini dianggap telah hilang atau manuskripnya belum ditemukan? Fakta membuktikan bahwa nas tersebut memang termaktub dalam Injil Barnabas versi bahasa Italia dan bahasa Spanyol. Injil Barnabas versi terjemahan bahasa Italia tersebut kini sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa, termasuk Injil Barnabas versi terjemahan bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Semua terbitan Injil Barnabas dalam berbagai bahasa yang kini beredar, ternyata didasarkan pada “Terjemahan Injil Barnabas” edisi Oxford yang digarap oleh Lonsdale Ragg dan Laura Ragg dalam versi terjemahan bahasa Inggris, terbitan tahun 1907 M.

Dengan demikian, para ahli teks klasik menyadari bahwa Injil Barnabas yang tersebar saat ini di kalangan publik hanyalah merupakan “Terjemahan Kitab Injil Barnabas” yang diterjemahkan dari “Terjemahan Injil Barnabas” berbahasa Italia, dan bukan terjemahan dari kitab “Evangelium nomine Barnabae” berbahasa Latin. Injil Barnabas 39: 13-22 versi terjemahan bahasa Indonesia, teksnya berbunyi demikian:

“Kemudian Allah memberikan ruh-Nya kepada manusia, sementara semua malaikat menyanyikan, “Terpujilah nama-Mu Yang Kudus, wahai Allah Tuhan kami.” Kemudian Adam berdiri di atas kedua kakinya dan melihat di udara sebuah tulisan yang bersinar seperti matahari, “Tidak ada Tuhan selain hanya Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.” Lantas Adam membuka mulutnya dan berkata: “Terima kasih, wahai Tuhan Allahku bahwa Engkau telah berkenan menciptakan aku. Akan tetapi aku memohon kepada-Mu, tolong katakan kepadaku apa makna dari kalimat, “Muhammad adalah Rasul Allah?” Lalu Allah berfirman: “Selamat datang wahai hamba-Ku Adam. Aku katakan kepadamu bahwa kamu adalah manusia pertama yang diciptakan. Dan dia yang kamu lihat itu adalah anakmu yang akan datang kelak ke dunia bertahun-tahun lamanya sejak sekarang. Dan dia akan menjadi Rasul-Ku yang karena dialah Aku menciptakan segala sesuatu. Ketika dia datang, maka dia akan memberi cahaya untuk semesta alam. Jiwanya diletakkan dalam kemegahan surgawi enam puluh ribu tahun sebelum Aku menciptakan apapun.” Lihat karya Dr. Mundzir al-Hayik, Injil Barnabas: Studi Kritis dan Komparatif (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2017), hlm. 114.

Dengan demikian, yang ditemukan kini memang hanyalah manuskrip Injil Barnabas terjemahan bahasa Italia dan manuskrip Injil Barnabas terjemahan bahasa Spanyol, yang berdasarkan kolofonnya ternyata manuskrip tersebut berasal dari abad ke-16 M. (circa 1575 M). Kini, manuskrip “Terjemahan Injil Barnabas” tersebut disimpan di kota Wina, Austria. Ironisnya, hingga kini akses riset akademik dan penerbitan terhadap “Terjemahan Injil Barnabas” berbahasa Italia dan “Terjemahan Injil Barnabas” berbahasa Spanyol juga tidak terbuka bagi para akademisi Muslim. Padahal kemudahan akses riset terhadap kedua manuskrip tersebut sangatlah penting bagi para akademisi, terutama dalam rangka “melempangkan” upaya dialog lintas agama-agama rumpun Abrahamik.

Apapun alasannya, penyebutan nama Evangelium nomine Barnabae (lit. “Injil Barnabas”) telah termaktub dalam “Decretum Gelasianum” yang manuskripnya berasal dari abad ke-6 M. Bukankah nama Injil Barnabas tersebut faktanya memang telah termaktub dalam dokumen Dekrit Gelasius yang ditulis pada abad ke-6 M.? Artinya, eksistensi Injil Barnabas sebagai sebuah manuskrip memang sudah ada sebelum abad ke-6 M. Itulah sebabnya nama manuskrip “Evangelium nomine Barnabae” (Injil Barnabas) yang populer dan beredar di kalangan umat Kristiani pada masa itu ditetapkan secara resmi sebagai kitab Apokrif. Berdasar pada “Decretum Gelasianum” tersebut, maka umat Kristen intelektual/ awam dapat mematuhi keputusan hukum kanonik itu, dan sekaligus memahami bahwa manuskrip “Evangelium nomine Barnabae” (Injil Barnabas) bukanlah Injil resmi yang diakui dan dikanonkan oleh Gereja.

Fakta historis membuktikan bahwa nama manuskrip “Evangelium nomine Barnabae” (Injil Barnabas) telah termaktub dalam Dekrit yang dikeluarkan oleh Paus Gelasius (492-496 M). Menariknya, ada kutipan nas yang termaktub dalam manuskrip “Apology of al-Kindi” (ca. 830 M), yang sangat mungkin teksnya berasal dari kutipan teks yang dianggap Apokrif tersebut. Fakta historis juga membuktikan bahwa para intelektual Kristen sangat berpeluang besar untuk mengakses kitab-kitab Apokrif dibanding para intelektual Muslim. Hal ini juga terkait akses riset tentang “the Dead Sea Scrolls” (Naskah Laut Mati) yang ditemukan di wilayah Qumran (Israel), dan juga akses riset tentang “the Nag Hammadi manuscripts” (manuskrip Nag Hammadi) di kawasan Mesir. Jadi, adanya relasi atau pun kutipan teks yang termaktub dalam manuskrip “the Apology of al-Kindi” dengan manuskrip Apokrif yang berjudul “Evangelium nomine Barnabae” (Injil Barnabas), maka hal itu sangat logis. Keberadaan manuskrip-manuskrip Apokrif yang disebutkan dalam “Decretum Gelasianum” adalah bukti adanya tradisi tulis dan perkembangan khasanah intelektual Kristiani pada zamannya, sedangkan manuskrip “the Apology of al-Kindi” adalah karya intelektual dari penulis Kristen yang dilahirkan pada zaman berikutnya. Dengan demikian, hal ini penting dikaji secara filologis. Pertama, teks “kutipan” dalam manuskrip “the Apology of al-Kindi (circa. 215 H/ 830 M) tersebut memang khas Kristiani dan bersumber dari teks literatur Kristen, dan tidak ada kaitannya dengan literatur Islam. Kedua, teks “kutipan” dalam manuskrip “the Apology of al-Kindi (circa. 215 H/ 830 M) tersebut merupakan “teks transformasi” khas Kristiani yang muncul sebelum era pembukuan kitab al-Mustadrak, karya Imam al-Hakim (w. 405 H/1020 M). Kedua manuskrip tersebut ada jarak zaman sekitar 190 tahun.

Kini telah terbukti bahwa di dalam “Terjemahan Injil Barnabas” versi bahasa Italia (circa. 1575 M) ternyata fakta redaksional teksnya juga terdapat nas seperti kutipan yang termaktub dalam manuskrip “Apology of al-Kindi.” Sementara itu, berdasarkan kajian filologi, dokumen “Decretum Gelasianum” tersebut sudah ada sebelum Sang Nabi SAW dilahirkan pada tahun 571 M., dan fakta ini merujuk pada masa jabatan Paus Gelasius (492-496 M). Artinya, dokumen “Decretum Gelasianum” yang menyebut eksistensi manuskrip Injil Barnabas, faktanya dokumen tersebut telah tersimpan sekitar 75 tahun sebelum kelahiran Nabi Islam. Manuskrip Decretum Gelasianum yang kini “survive” memang merupakan manuskrip abad ke-6 M., tetapi manuskrip ini tidak berarti dibuat pada abad ke-6 M., melainkan merupakan salinan dari naskah salinan abad ke-5 M., sesuai masa akhir jabatan kepausan Paus Gelasius (492-496 M). Fakta membuktikan bahwa dalam dokumen “Decretum Gelasianum” tersebut telah didaftar beberapa kitab yang dinyatakan Apokrif, dan di antaranya adalah kitab “Evangelium nomine Barnabae” (Injil Barnabas) dan kitab “Evangelium nomine Mathiae” (Injil Matias). Selain itu, daftar kanon kitab-kitab Apokrif yang disebutkan dalam “Decretum Gelasianum” ternyata sama dengan daftar kanon Cartage pada tahun 419 M., dan nama kitab “Evangelium nomine Barnabae” (Injil Barnabas) tercantum pada daftar kedua dokumen tersebut. Bahkan, pada “The List of the Sixty Books” (Daftar ke-60 Kitab-kitab Apokrif) yang disusun pada abad ke-7 M., juga disebutkan adanya 3 kitab utama, yakni “Epistle of Barnabas” (Surat Barnabas), “the Gospel of Barnabas” (Injil Barnabas), dan “the Gospel of Matthias” (Injil Matias). Artinya, ketiga dokumen penting yang eksis pada abad ke V – VII M., yang mencatat nama “Evangelium nomine Barnabae” (the Gospel of Barnabas) tersebut tidak mungkin salah tulis akibat pembacaan yang salah terkait daftar kitab-kitab yang dianggap Apokrif, dan faktanya “Evangelium nomine Barnabae” (Injil Barnabas) termasuk salah satu dari daftar kitab-kitab Apokrif tersebut. Bila penyebutan nama “Evangelium nomine Barnabae” (Injil Barnabas) pada daftar kanon melalui “Decretum Gelasianum” yang diumumkan oleh Paus Gelasius (492-496 M.) tersebut salah tulis dan salah baca, yang kemudian telah diumumkan kepada publik pada masanya, maka pasti akan terjadi revisi keputusan Dekrit. Namun, fakta historisnya ternyata revisi keputusan Dekrit atas “Decretum Gelasianum” tersebut tidak pernah ada. Bahkan penyebutan nama “Evangelium nomine Barnabae” (Injil Barnabas) ternyata masih tetap muncul dalam dokumen “Daftar 60 Kitab-kitab Apokrif” (the List of Sixty Books) yang diterbitkan pada abad ke-7 M. Artinya, hampir selama 200 tahun penyebutan nama “Evangelium nomine Barnabae” (Injil Barnabas) tidak pernah mendapat protes dari para bapa Apostolik gereja awal akibat salah tulis, salah baca, atau pun salah identifikasi terhadap manuskrip tersebut. Adanya tuduhan kekeliruan penyebutan nama “Evangelium nomine Barnabae” (Injil Barnabas) dalam “Decretum Gelasianum” yang seharusnya tertulis “Apostle of Barnabas” (Surat Barnabas), tentu hal ini tidak beralasan. Kewibawaan teks “the Apostle of Barnabas” versi bahasa Yunani diakui otoritasnya dan termaktub dalam Codex Sinaiticus (abad ke-4 M) dan Codex Claromantus (abad ke-6 M), sehingga wajar bila teks tersebut namanya tidak dicantumkan sebagai kitab Apokrif dalam dokumen “Decretum Gelasianum” (abad ke-5 M). Selanjutnya, adanya tuduhan kekeliruan penyebutan nama “Evangelium nomine Barnabae” (Injil Barnabas) dalam “Decretum Gelasianum” yang seharusnya tertulis “Actus nomine Barnabae Apostoli” (Kisah Rasul Barnabas), tentu saja hal ini juga tidak beralasan. Kedua dokumen tersebut memuat teks yang berbeda substansinya, yakni “kisah Yesus menurut Barnabas” dan “kisah perjalanan misi Barnabas.” Kitab yang disebut dengan judul “the Acts of Barnabas” (Actus nomine Barnabae apostoli) hanyalah berupa lembaran yang berupa catatan, yang mengabadikan perjalanan misi Barnabas dalam rangka pemuliaan kota Siprus dan sekaligus kisah kematian syahid St. Barnabas di pulau tersebut. Berkaitan dengan teks “the Acts of Barnabas”, lihat karya Alexander Robert – James Donaldson (ed.), The Writings of the Fathers Down to AD. 325: Ante Nicene Fathers, volume VIII (Massachussets: Hendrickson Publishers, 1994), hlm. 493-496. Naskahnya juga pernah diterbitkan oleh R.A. Lipsius dan Max Bonnet dalam versi bahasa Latin, berjudul “Acta Apostolarum Apocrypha”, volume II, 2., terbitan tahun 1903 M. Lihat karya M.R. James (ed.), the Apocryphal New Testament: Being the Apocryphal Gospels, Acts, Epistles and Apocalypses (Oxford: the Clarendon Press, 1955), hlm. xxx. Konon, manuskrip ini berasal dari abad ke-5 M., meskipun klaim ini sangat meragukan. Jika manuskrip berbahasa Yunani ini ternyata hanya merupakan catatan kecil yang tidak begitu penting, justru anehnya mengapa manunskrip tersebut tidak pernah disinggung dan terabaikan identitasnya pada semua “Daftar Kitab-kitab Apokrif” yang disusun oleh Bapa-bapa Gereja purba sejak abad ke-5 Masehi hingga abad ke-7 Masehi? Bahkan, pada abad ke-4 M., Bapa gereja purba yang bernama Eusebius, seorang uskup Kaesarea (264 – 340 M.) ternyata juga tidak pernah menyinggung atau membicarakan adanya kitab yang berjudul “the Acts of Barnabas” (Actus nomine Barnabae apostoli) dalam “Daftar Kanon” yang disusunnya. Bila manuskrip “Actus nomine Barnabae apostoli” (Kisah Barnabas) yang teks aslinya konon ditulis dalam bahasa Yunani hanya berupa lembaran kecil dan sederhana, maka pasti dan tidak mungkin Paus Gelasius (492 – 496 M.) beserta tim, yang sangat paham bahasa Yunani, tetapi justru mereka salah membaca dokumen. Apalagi mereka keliru mencantumkan judul manuskrip tanpa membaca isinya. Bukankah para Bapa gereja awal adalah para akademisi yang sangat mahir membaca teks Yunani? Jadi, adanya tuduhan salah tulis, atau salah baca, atau salah identifikasi penyebutan manuskrip “Actus nomine Barnabae apostoli” (Kisah Barnabas) dalam “Decretum Gelasianum” menjadi “Evangelium nomine Barnabae” (Injil Barnabas) adalah sangat mustahil. Apalagi pencantuman nama “the Gospel of Barnabas” tersebut bertahan hingga abad ke-7 Masehi, sebagaimana yang termaktub dalam dokumen “Daftar 60 Kitab Apokrif.” Selain itu, tidak adanya larangan membaca teks “the Epistle of Barnabas” dan teks “the Acts of Barnabas” di lingkungan gereja-gereja purba, sedangkan dokumen “Decretum Gelasianum” memasukkan kitab “Evangelium nomine Barnabae” (Injil Barnabas) sebagai buku Apokrif, maka hal ini menandai 2 hal penting. Pertama, “Decretum Gelasianum” tersebut merupakan hukum kanonik sebagai kebijakan pelarangan penggunaan teksnya. Kedua, penyebutan identitas manuskrip “Evangelium nomine Barnabae” (Injil Barnabas) tersebut bukanlah kesalahan penulisan judul kitab atau pun akibat pembacaan yang salah dari sebuah ungkapan yang termuat dalam kitab “the Acts of Barnabas” (Kisah Barnabas). Argumen ini sekaligus sebagai jawaban atas tuduhan Bambang Noorsena tentang invaliditas “Injil Barnabas.” Lihat karya Bambang Noorsena, Telaah Kritis atas Injil Barnabas: Asal-usul, Historisitas dan Isinya (Yogyakarta: Yayasan ANDI, 1990), hlm. 20-21. Lihat juga karya Bambang Noorsena, Answering the Misunderstanding: Menjawab Kesalahpahaman dalam Dialog Teologis Kristen – Islam. Jilid III (Malang: ISCS, 2017), hlm. 23-24.

Bahkan, bila kitab “Evangelium nomine Barnabae” (Injil Barnabas) dikatakan sebagai salah satu dari daftar kitab-kitab Apokrif yang baru disisipkan dalam dokumen “Decretum Gelasianum” pada abad ke-6 M., tentu hal ini juga absurd. Faktanya, tidak ada satu pun dokumen pembanding dari manuskrip-manuskrip tentang “Decretum Gelasianum” yang tidak memuat daftar kitab-kitab “sisipan” tersebut, termasuk sisipan kitab “Evangelium nomine Barnabae.” Jadi, penyebutan nama “Evangelium nomine Barnabae” (Injil Barnabas) dan “Evangelium nomine Mathiae” (Injil Matias) yang familiar selama kurun waktu 300 tahun, justru membuktikan bahwa kedua manuskrip tersebut memang telah dikenal publik, meskipun keduanya dikategorikan sebagai kitab-kitab Apokrif. Sebaliknya, meskipun “the Epistle of Barnabas” (Surat Barnabas) versi bahasa Yunani dikategorikan sebagai kitab Apokrif pada abad ke-7 M., sesuai “the List of Sixty Books” (Daftar ke-60 Kitab Apokrif), ternyata “the Epistle of Barnabas” (Surat Barnabas) tersebut dimasukkan sebagai dokumen yang diakui kewibawannya oleh “Apostolic Fathers” (Bapa-bapa Gereja) generasi awal. Lihat karya Michael W. Holmes (ed.), the Apostolic Fathers: Greek Texts and English Translations. Third Edition (Grand Rapids, Michigan: Baker Academic, 2007), hlm. 380-441. “Surat Barnabas” versi bahasa Yunani yang memiliki kewibawaan di kalangan Bapa-bapa gereja generasi awal tersebut dapat dibuktikan melalui temuan manuskrip berupa Codex Sinaiticus (abad ke-4 M.) yang memasukkan teks “Surat Barnabas” pada kodeks tersebut. Bahkan, Codex Claromantus (abad ke-6 M.), ternyata juga memasukkan teks “Surat Barnabas” dalam kodeks tersebut. Dengan demikian, kitab “Evangelium nomine Barnabae” (Injil Barnabas) itu sebenarnya berbeda manuskripnya dengan kitab “the Epistle of Barnabas” (Surat Barnabas), dan kitab “Injil Barnabas” versi bahasa Yunani/ Latin tersebut hingga kini memang belum ditemukan manuskripnya. Namun, eksistensi manuskrip “Injil Barnabas” tersebut sempat bertahan hingga abad ke-7 M., dan faktanya kutipan teksnya justru termaktub dalam karya abad ke-9 M., sebagaimana yang terekam dalam manuskrip “the Apology of al-Kindi (ca. 215 H/ 830 M)., khususnya terkait tentang eksistensi Sang Nabi SAW sebelum penciptaan alam semesta, dan oleh sebab dia segala sesuatu diciptakan-Nya.

Hal yang senada, terkait tentang Yesus, pada manuskrip “Apology of al-Kindi” (circa 215 H/830 M.) tersebut ternyata juga terdapat sebuah kutipan nas yang berbunyi demikian:

“Nam ille, quem nos Filium Dei dicimus, Verbum aeternum ipsius est, per quod creata sunt universa.”

(“For he, whom we call the Son of God, is his eternal Word, through whom all things were created”). Lihat karya Julian Yolles dan Jessica Weiss (ed.), Medieval Latin. Life of Muhammad (London: Harvard University Press, 2018), hlm. 287.

Kutipan nas dalam manuskrip “Apology of al-Kindi” tersebut dapat dilacak sumbernya, dan dipastikan bersumber berasal dari teks Injil Yohanes 1:3 yang berbunyi demikian:

“Omnia per ipsum facta sunt, Et sine ipso factum est nihil, quod factum est.”

(“Segala sesuatu dijadikan melalui dia, maka jikalau tidak ada dia, tiadalah sesuatu yang telah jadi”). Lihat Colunga – Turrado (ed.), Biblia Sacra: Vulgatam Clementinam (Madrid: Biblioteca de Autores Cristianos, 2002), hlm. 1042.

Dengan demikian, sebenarnya ada kesamaan konsep mengenai asal-usul dan sumber penciptaan alam semesta dalam perspektif Kristen dan Islam, meskipun kedua iman merujuk pada eksistensi tokok yang berbeda. Namun, keduanya ternyata berakar dari tradisi keagamaan yang sama, yakni berkaitan dengan kegamaan rumpun Abrahamik dalam konteks kultur Semitik.

Kini saatnya para pengkaji studi agama-agama rumpun Abrahamik dapat memanfaatkan kajian teks lintas keagamaan secara intensif. Dalam konteks ini, kajian intertekstualitas antara manuskrip “the Apology of al-Kindi” dengan teks Injil Yohanes perlu dieksplorasi. Kajian intertekstualitas antara manuskrip “the Apology of al-Kindi” dengan teks Injil Barnabas dan keterkaitannya dengan manuskrip kitab “al-Mustadrak al-Hakim” juga sangat penting ditelusuri secara akademik berdasarkan penerapan teori Semiotik. Ada yang disebut sebagai teks hipogram, dan ada pula yang disebut sebagai teks transformasi. Di sinilah kita akhirnya bisa menemukan jejaring teksnya. Selain itu, kajian filologis terhadap semua teks tersebut akan menghasilkan “suntingan teks” (edisi teks) yang valid. Sementara itu, penerapan kajian tekstologi terhadap semua teks tersebut , maka penerapannya pasti fokus pada penelusuran silsilah dan otentisitas teksnya. Begitu juga dengan penerapan kajian kodikologi, hal ini akan mencakup pada kajian terhadap sejarah fisik manuskrip dan penulisannya. Namun demikian, ketiga penerapan kajian tersebut sumber primernya tetap sama, yakni merujuk pada studi manuskrip sebagai obyeknya.

Disadur dari laman facebook https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3786669274691520&id=100000454545668?sfnsn=wiwspmo&extid=QmyCMeMIsyekdhoC

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.